Nulis diary dulu sering diasosiasikan sama remaja labil yang curhat soal gebetan. Sekarang, journaling justru balik lagi — bukan sebagai hal yang cringe, tapi sebagai salah satu tren self-care yang diambil serius anak muda, Tilt Mates.

Bukan Sekadar Curhat ke Kertas
Journaling masuk sebagai salah satu dari 10 tren self-care 2026 ala Gen Z versi Jawa Pos, bareng dengan digital detox dan tidur yang cukup. Bedanya dengan diary ala remaja dulu, journaling modern lebih diarahkan sebagai alat buat memahami emosi, mengurangi overthinking, dan refleksi diri — bukan sekadar catatan harian biasa.
Konsepnya sederhana: nulis apa pun yang ada di pikiran tanpa takut dihakimi, baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Enggak ada format baku, enggak perlu rapi, dan enggak ada “cara yang benar” buat melakukannya.
Kaitan Journaling sama Mindfulness
Meski enggak selalu disebut langsung sebagai praktik mindfulness, journaling punya prinsip yang mirip: memperhatikan apa yang sedang dirasakan di momen tertentu, tanpa menghakimi diri sendiri. Riset soal mindfulness buat mengatasi burnout akademik mahasiswa, misalnya, turut menyebut jurnal reflektif sebagai salah satu teknik yang digunakan bareng meditasi pernapasan dan body scan.
Kenapa Format Fisik Masih Diminati?
Di tengah dunia yang serba digital, menariknya banyak anak muda justru balik ke jurnal fisik — buku catatan beneran, bukan aplikasi atau notes di HP. Kemungkinan alasannya karena menulis tangan ngasih jeda yang lebih “hadir” dibanding ngetik, yang sering kebawa kebiasaan multitasking kayak buka notifikasi di tengah-tengah.
Cara Buat Menuangkan Unik-Unek
Mungkin journaling enggak akan langsung nyelesain semua masalah yang numpuk di kepala Tilt Mates. Tapi sebagai cara buat “ngeluarin” isi kepala tanpa harus cerita ke orang lain dulu, journaling bisa jadi langkah awal yang enggak ribet buat mulai lebih kenal sama perasaan sendiri.
Daripada nahan semuanya sendirian, kenapa enggak coba tulis aja dulu?















