
BANDUNG – Sadarkah Tilt Mates, Salam tiga jari kembali ramai di media sosial. Gesture menempelkan tiga jari ke bibir lalu mengarahkannya ke langit populer dalam The Hunger Games, tapi lambat laun gesture ini jadi simbol perlawanan dan kebebasan dari kebijakan yang nggak berpihak pada rakyat.
Sebuah gestur tangan bisa terlihat sederhana, tetapi maknanya tidak selalu sesederhana bentuknya. Tiga jari yang diangkat ke udara belakangan kembali ramai di media sosial Indonesia, memancing perbincangan tentang demokrasi, kebebasan, dan perlawanan terhadap kekuasaan.
Sebagian orang menghubungkannya dengan The Hunger Games, waralaba novel dan film distopia tentang masyarakat yang hidup di bawah kekuasaan otoriter. Namun, apakah salam tiga jari memang simbol perlawanan? Bagaimana gestur dari dunia fiksi itu menyeberang ke gerakan politik nyata?
Dari dunia fiksi ke jalanan politik

Dalam novel The Hunger Games karya Suzanne Collins, salam tiga jari menggambarkan penghormatan, kekaguman, dan perpisahan kepada seseorang yang dicintai. Tokoh utamanya, Katniss Everdeen, kemudian menjadi bagian penting dari berkembangnya gestur yang melambangkan solidaritas dan perlawanan terhadap Capitol, pusat kekuasaan yang menindas distrik-distrik di bawahnya.
Dalam perjalanan cerita, gestur itu berubah dari ekspresi penghormatan menjadi simbol pembangkangan. Ketika digunakan secara kolektif, salam tiga jari memperlihatkan bahwa warga yang tampak terpisah dapat memiliki perasaan dan tujuan yang sama.
Perubahan makna tersebut kemudian terjadi di dunia nyata. Pada 2014, setelah kudeta militer di Thailand, para demonstran mengadopsi salam tiga jari sebagai bentuk penolakan terhadap pemerintahan junta dan pembatasan kebebasan berekspresi. Gestur ini menjadi alternatif untuk menyatakan sikap politik ketika ruang demonstrasi dan ekspresi publik dibatasi.
Penelitian Annie Hui yang diterbitkan dalam jurnal Anthropological Notebooks pada 2020 menjelaskan bagaimana simbol dari budaya populer tersebut diadopsi gerakan pro-demokrasi Thailand untuk membangun identitas kolektif dan menyuarakan ketidakpuasan sosial.
Penggunaannya kemudian meluas ke Hong Kong dan Myanmar. Pada 2021, salam tiga jari kembali terlihat dalam gerakan menentang kudeta militer Myanmar. Dari satu negara ke negara lain, gestur tersebut memperoleh makna yang semakin lekat dengan solidaritas, demokrasi, dan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter.
Benarkah salam tiga jari simbol perlawanan?

Jawabannya: benar, tetapi maknanya bergantung pada konteks.
Salam tiga jari bukan simbol yang sejak awal memiliki satu arti universal. Dalam The Hunger Games, maknanya berkembang mengikuti alur cerita. Di Thailand, gestur itu menjadi simbol anti kudeta. Di Myanmar, penggunaannya berkaitan erat dengan penolakan terhadap pengambilalihan kekuasaan oleh militer.
Penelitian Peta Freestone, Jessica Kruk, dan Lauren Gawne yang terbit dalam jurnal Linguistics Vanguard pada 2023 menunjukkan bahwa salam tiga jari telah melampaui dunia fiksi dan digunakan sebagai gestur pro-demokrasi di Asia Tenggara.
Artinya, kekuatan simbol tidak hanya terletak pada bentuknya, tetapi juga pada pengalaman politik, ingatan kolektif, dan pesan yang disepakati oleh orang-orang yang menggunakannya.
Seseorang yang mengangkat tiga jari dalam konteks penggemar film belum tentu sedang menyampaikan protes politik. Sebaliknya, gestur yang sama dalam demonstrasi atau kampanye sosial dapat memiliki arti yang jauh lebih politis.
Di sinilah konteks menjadi penting: simbol yang sama bisa memiliki pesan berbeda, bergantung pada siapa yang menggunakannya, di mana ia ditampilkan, dan tujuan apa yang ingin disampaikan.
Di Indonesia, simbol perlawanan yang kembali menemukan momentumnya

Di Indonesia, salam tiga jari kembali mendapat sorotan dalam aksi mahasiswa dan percakapan media sosia, terutama pada 20 Oktober 2026 dan setelahnya. Gerakan Indonesia Sadar yang melibatkan sejumlah organisasi mahasiswa menggunakan gestur tersebut dalam kampanye kritik terhadap persoalan demokrasi, penegakan hukum, kebijakan anggaran, pendidikan, dan lingkungan.
Dalam konteks ini, salam tiga jari bukan sekadar referensi terhadap film populer. Gestur tersebut menjadi penanda identitas bersama bagi orang-orang yang ingin menyampaikan kritik. Penggunaannya juga menghubungkan keresahan domestik dengan tradisi gerakan pro-demokrasi yang lebih luas di Asia Tenggara.
BEM UI, salah satu inisiator Komite Sadar atau Selamatkan Daulat Rakyat, menyatakan simbol three-finger salute “telah bertransformasi menjadi instrumen perlawanan yang lugas melampaui batas fiksi.”
Namun, penting untuk membedakan interpretasi yang dipilih sebuah gerakan dari asal-usul historis gesturnya. Tidak ada dasar kuat untuk menyimpulkan bahwa setiap penggunaan salam tiga jari di seluruh dunia selalu mewakili tiga nilai tersebut.
Yang membuat simbol ini relevan bagi Indonesia adalah kemampuannya menyampaikan sikap politik secara ringkas, mudah dikenali, dan mudah disebarluaskan melalui foto maupun video. Di tengah derasnya arus informasi digital, satu gestur dapat menjadi pintu masuk bagi publik untuk membicarakan persoalan yang lebih kompleks.
Ketika gestur menjadi bahasa politik

Kajian komunikasi membantu menjelaskan mengapa simbol seperti ini bisa memiliki pengaruh besar. Penelitian Jane Reynoaldo, Bambang Srigati, dan Mohammad Solihin yang terbit dalam Jurnal Komunikasi dan Media mengkaji makna salam tiga jari melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Penelitian tersebut menemukan bahwa gestur ini dalam pemberitaan demonstrasi Thailand dimaknai sebagai simbol kebebasan dan perlawanan terhadap kekuasaan militer.
Sementara itu, penelitian I Putu Juni Antara dan Budi Irawanto dalam Jurnal Studi Pemuda Universitas Gadjah Mada pada 2023 menelaah bagaimana media membingkai penggunaan salam tiga jari dalam gerakan aktivisme di Asia Tenggara.
Kedua kajian tersebut memperlihatkan pentingnya hubungan antara simbol, konteks politik, dan cara media menyampaikan peristiwa kepada publik. Sebuah gestur dapat memperoleh makna baru ketika penggunaan berulang kali dalam demonstrasi, pemberitaan media, lalu tersebar luas kembali melalui pengguna media sosial.
Dari perspektif komunikasi, simbol juga dapat mengurangi jarak antara individu yang memiliki keresahan serupa. Orang tidak harus saling mengenal atau berada dalam organisasi yang sama untuk mengenali pesan yang hendak disampaikan.
Namun, popularitas simbol bukan ukuran otomatis keberhasilan gerakan. Salam tiga jari dapat menarik perhatian dan membangun solidaritas, tetapi perubahan politik tetap membutuhkan tuntutan yang jelas, partisipasi publik, pengawasan kebijakan, dan mekanisme pertanggungjawaban.
Pada akhirnya, tiga jari yang terangkat memang belum tentu bisa langsung merubah keadaan. Maknanya pun, tergantung pada konsistensi dan komitmen aksi yang mengikutinya. Di Indonesia, pertanyaan terpenting bukan hanya mengapa simbol ini kembali viral, melainkan persoalan apa yang ingin disuarakan dan sejauh mana tindak lanjut dari aksi ini.















