Bongkar Rahasia Teh Oplosan yang Bikin Ketagihan

Sajian teh dalam poci gerabah menggunakan gula batu, Yogyakarta
Sajian teh dalam poci gerabah menggunakan gula batu, Yogyakarta, Minggu, 12 Februari 2017. (TiltUp.id/Dzikra Imron)

Bandung, 16 Juli 2026 – Tiltmates, coba ingat-ingat atau perhatikan sekitar kalian, siapa yang dikit-dikit minum teh, baik panas maupun dingin. Tambah lagi sekarang pilihan berkembang dengan semakin menjamurnya gerai-gerai Teh Solo. 

Kenapa Solo menjadi identik dengan teh? bagaimana hubungan teh dengan wilayah Kasunanan Surakarta, nama lama Solo Raya? Sejak kapan teh Solo jadi merk dagang hingga ke setiap penjuru nusantara?

Budaya minum teh bukan cuma punya kalangan ningrat. Di Indonesia, teh dan kopi udah kaya air putih, yang bisa diminum kapan aja dan di mana saja. Lalu Teh Solo?

Menelusuri Budaya Minum Teh di Solo

Ilustrasi Teh Solo dari Serat Centhini
Ilustrasi Teh Solo dari Serat Centhini

Tidak ada catatan pasti kapan popularitas Teh Solo menasional. Tapi kalau budaya minum teh di Solo tercatat di Serat Centhini yang ditulis pada awal abad ke-19 yang diprakarsai oleh Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III (Kemudian menjadi Sri Susuhunan Pakubuwana V).

Dalam Serat Centhini ada potongan dongen yang mengungkapkan bahwa budaya minum teh telah menjadi bagian dari budaya orang Jawa, khususnya dari Kerajaan Mataram. Seperti saat menjamu tamu agung, yaitu Raja Siam (Thailand) pada tahun 1901.

Hingga kemudian teh menjadi minuman semua kalangan, hampir semua masyarakat Solo suka minum teh. Bahkan salah satu budaya minum teh ini masuk dalam salah satu jamuan kondangan dengan tradisi piring terbang di Solo dan sekitarnya.

Sejak Kapan Istilah Teh Solo Jadi Populer?

Paket teh Solo pada salah satu lapak pedagang di Pasar Gede, Solo
Paket teh Solo pada salah satu lapak pedagang di Pasar Gede, Solo, Minggu, 31 Mei 2026. (TiltUp.id/Dzikra Imron)

Meski namanya adalah teh Solo, namun racikan bahan baku teh tidak hanya dari Solo. racikan-racikan khas yang diklaim rahasia sehingga menghasilkan rasa teh diinginkan, merupakan perpaduan dari berbagai macam merk teh yang berasal dari berbagai daerah, alias oplosan.

Kalau bertandang ke Pasar Gede, salah satu destinasi belanja favorit pelancong kala mengunjungi Solo, hampir setiap lapak menyediakan paket racikan teh, yang terdiri dari beberapa merk. Itulah kenapa sering banget kan penjual es teh Solo mengklaim memiliki racikan khusus rahasia.

Hal ini sejalan dengan pengalaman pribadi, yaitu budaya ngeteh di rumah. Setiap pagi dan sore hari kami melakukan ‘ritual’ minum teh, tentu saja dengan racikan (campuran beberapa merk teh) yang dibuat oleh Ibu saya. Bahkan terkadang disertai dengan inovasi, seperti menambahkan lemon, yang aslinya ada menu teh kampul yaitu racikan teh disertai dengan potongan jeruk nipis. 

Kebiasaan minum teh di keluarga saya hanya sebagian contoh kecil saja. Namun, tradisi ini mulai tumbuh atas pengaruh kebijakan kolonialisme yang memaksa bumi nusantara menjadi produsen teh dunia.

Teh Solo dengan Kaidah Nasgitel

Menu makanan angkringan di depan Hotel Pop, Yogyakarta, Rabu, 8 Juli 2026. (TiltUp.id/ Fahri Dwi Wibowo)

Dalam tradisi wedangan, minuman yang menjadi sajian tak hanya teh, tapi juga kopi. Sepanjang pengalaman, budaya ini tidak mengenal es. Kalau wedangan, umumnya minuman tersaji panas maupun hangat. Makanya, istilah yang populer sekarang dengan es teh Solo merupakan bagian dari inovasi menuruti selera pasar.

Sementara legi atau manis, dan kenthel atau kental inilah yang kemudian menjadi ciri khas atau penanda rasa bahwa teh yang sedang dikonsumsi memiliki ciri khas, dengan harapan pelanggan akan mengingat rasa itu dan terus kembali untuk mencicipi.

Nah sejatinya pula, sudah menjadi pakem bahwa rasa manis yang didapat berasal dari proses kristalisasi larutan gula jenuh yang didinginkan secara perlahan sehingga molekul-molekul gula saling mengikat dan menyusun diri menjadi struktur kristal yang sangat rapat dan padat, sehingga saat cairan dingin sepenuhnya, gula akan mengeras menyerupai batu, alias gula batu.

Penulis: Dzikra Imron

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top