Bahasa Isyarat Jadi Syarat Menembus Sisi Sunyi Teman Tuli

Teman Tuli peragakan bahasa Isyarat kepada Teman Dengar

Bandung – Tilt Mates! Coba bayangkan sejenak, ketika berada di tengah keramaian, saat semua orang berbicara, bersenda gurau, berkelakar, dan bercengkerama, tetapi nggak ada satu pun yang mengerti bahasa kita. 

Bagi komunitas Tuli, perasaan “terasing” ini udah jadi makanan sehari-hari, bukan karena mereka tidak bisa berkomunikasi, tapi karena kita yang enggan belajar bahasa mereka. 

Berdasarkan catatan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), jumlah penyandang disabilitas sensorik rungu atau tuli mencapai 22,97 juta jiwa atau sekitar 8,5%  dari total penduduk Indonesia.

Namun sayangnya nih, mayoritas ruang publik masih dirancang seolah mereka tidak ada. Karena itu, Belajar bahasa isyarat bukan sekadar mempelajari gerakan tangan, melainkan langkah paling nyata untuk meruntuhkan tembok penyekat dalam ruang-ruang sunyi.

Komunitas Tempat Bertumbuh

Teman Dengar belajar percakapan sehari-hari dan huruf dalam Bahasa Isyarat
Teman Dengar mempraktikkan bahasa Isyarat dalam Acara Growing Beyond Words di Di Atas Kota Cafe, Sabtu, 15 Agustus 2026. (Foto: Dzikra Imron)

Belajar bisa di mana aja dan kapan aja, bahkan dari siapa saja tak terbatas ruang dan waktu, ataupun usia. Di Bandung, Jawa Barat kita bisa belajar menyelami ruang-ruang sunyi bersama komunitas Growing Sister, sebuah komunitas perempuan di Bandung yang fokus pada literasi, pengembangan diri, dan ruang bertumbuh. 

Komunitas yang digawangi oleh Linda Yunitasari ini menggandeng Komunitas Qur’an Isyarat Indonesia, sebuah komunitas Muslim Tuli yang concern pada pendidikan dan pengembangan SDM Tuli, melalui bahasa Isyarat.

“Adanya kegiatan ini, menjadikan bahasa Isyarat sebagai alat komunikasi yang inklusif. Kita adain acara yang kolaborasi sama teman-teman kuliah. Biar acaranya ini bisa jadi ruang yang inklusif buat teman-teman kuliah juga.” ujar Linda yang semangat banget memimpin jalanya acara.

Melalui kegiatan yang bertajuk Growing Beyond Words, belajar dan mengenal dasar Bahasa Isyarat Indonesia atau BISINDO. Pada kesempatan ini, Teman Dengar, sebutan untuk kita yang bisa mendengar dengan sempurna berkesempatan mengenal cara berkomunikasi yang baik dan benar terhadap Teman Tuli. 

Ketua Komunitas memberikan sambutan
Linda Yunitasari, Ketua dan Pendiri Komunitas Growing Sister sedang memberikan sambutan pada Acara Growing Beyond Words di Di Atas Kota Cafe, Sabtu, 15 Agustus 2026. (Foto: Dzikra Imron)

Belajar Tak Kenal Batas Usia

Kini ruang belajar tak kenal batas usia, buktinya partisipan dari seluruh penjuru Bandung, mulai cari usia remaja hingga ibu rumah tangga,  rela beradu di sebuah titik temu untuk berbagi ilmu pada Sabtu, 15 Agustus 2026 di Di Atas Kota Cafe. Partisipan pun antusias dan banyak dapat insight baru yang seru.

“Nggak sesusah itu, karena kita belajar bareng-bareng. Jadi Lebih tahu buat ngomong sama temen Tuli.” ungkap Umi yang baru pertama kali belajar bahasa Isyarat.

Bahasa sejatinya merupakan alat komunikasi universal, yang dapat menjadi alat meruntuhkan sekat-sekat ruang sunyi antara penyandang tuli dan mereka yang mampu mendengar.

Orang tanpa hambatan pendengaran dapat berkomunikasi menggunakan bahasa lisan sehari-hari. Karena itu, mempelajari dan menguasai bahasa isyarat sangat bermanfaat.

Populasi penyandang tuli di Indonesia jumlahnya jutaan, sementara Juru Bahasa Isyarat (JBI) tersertifikasi tercatat hanya sebanyak 500 orang. 

kuantitas ini nggak seimbang, karena Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan idealnya satu orang Juru Bahasa Isyarat untuk 100 orang Tuli. Jadi nggak heran kalau keberadaan JBI menjadi langka dan sulit di akses di luar kota besar.

Teman Tuli memajang aneka karya buatan mereka, seperti sticker, gantungan kunci, dan pajangan pada Acara Growing Beyond Words di Di Atas Kota Cafe, Sabtu, 15 Agustus 2026. (Foto: Dzikra Imron)

Lalu Apa Dampaknya Terhadap Pemenuhan Hak Teman Tuli?

Kita sudah banyak melihat seperti stasiun televisi, instansi pemerintah, atau seminar menggunakan bahasa Isyarat di layar kaca, tapi porsinya masih sangat kecil, jika untuk memenuhi kebutuhan Teman Tuli dalam mengakses informasi publik, siaran hiburan, maupun konten digital setiap hari.

Tapi no worries, dengan kita mau mempelajari dasar-dasar bahasa Isyarat, bisa menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap teman Tuli. Dengan begitu, siapapun dapat mengakses informasi secara inklusif. Karena itu, keberadaan komunitas bisa menjadi salah satu wadah belajar bahasa Isyarat. Sehingga, dapat mempermudah siapapun untuk mengakses kelas-kelas informal bahasa Isyarat.

Namun, agar hak-hak inklusivitas benar-benar terpenuhi secara merata, tetap perlu intervensi dan kebijakan yang lebih masif dari pemerintah untuk mencetak, melatih, dan menyebarkan JBI profesional ke seluruh penjuru daerah di Indonesia.

Penulis: Dzikra Imron

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top