In This Economy, Indonesia Mau Beli Rudal Senilai Rp11 T?

Sukhoi Su-30MKI fighter jet dipersenjatai dengan BrahMos

Bandung, 9 Juli 2026 – Indonesia sepakat beli rudal jelajah supersonik BrahMos dan rudal udara-ke-udara Astra dari India.

Sumber-sumber India mengatakan kepada Reuters nilai kesepakatan pembelian rudal sekitar $630 juta, yang akhirnya ditandatangani dalam kunjungan dua hari Perdana Menteri India Narendra Modi di Indonesia.

Pembelian rudal ini menjadikan Indonesia sebagai negara ketiga yang menandatangani perjanjian pembelian rudal dengan kecepatan jelajah setara dengan sekitar 5.800 km per jam, yang diproduksi oleh BrahMos Aerospace Private Limited. Sementara untuk Astra, Indonesia akan menjadi customer pertama.

Kesepakatan ini, menandai perluasan besar ekspor pertahanan India dan memperdalam hubungan strategis dengan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, bersamaan dengan meningkatnya persaingan ⁠dengan China untuk mendapatkan pengaruh di Indo-Pasifik.

RI Sepakat Beli Rudal dari India

Sebelum akhirnya menyepakati kontrak pembelian alutsista senilai sekitar US$630 juta (setara Rp11 triliun). Pada Januari 2025, Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan  PM India Narendra Modi serta Dr. Jaiteerth R. Joshi, CEO & MD BrahMos Aerospace di di Hyderabad House, New Delhi (25/01/2025).

Melansir laman resmi BrahMos, delegasi tingkat tinggi pimpinan Kepala Staf Angkatan Laut Indonesia, Laksamana Muhammad Ali, juga mengunjungi BrahMos Aerospace di New Delhi dan bertemu langsung dengan Dr. Jaiteerth R. Joshi, CEO & MD BrahMos Aerospace, serta beberapa pejabat senior lainnya dari perusahaan patungan India-Rusia ini pada sekitar waktu yang sama.

Kerja sama di bidang keamanan ini, semakin mendapatkan penegasan dalam kunjungan balasan Modi ke Indonesia yang menghasilkan 15 kesepakatan lainnya.

Perdagangan bilateral dengan Indonesia mencapai $28,15 miliar pada 2024-25, dengan peringkat negara tersebut sebagai mitra dagang terbesar kedua India di Asean.

Delegasi tingkat tinggi yang dipimpin oleh Kepala Staf, Laksamana. Muhammad Ali dari Angkatan Laut IBrahMosan mengunjungi BrahMos Aerospace, New Delhi & berinteraksi dengan Dr. Jaiteerth R. Joshi, CEO&MD BrahMos Aerospace & pejabat senior lainnya dari perusahaan JV.

Kenapa BrahMos dan Astra?

Ketertarikan pada rudal ⁠BrahMos telah meningkat sejak konflik empat hari India dengan Pakistan tahun lalu, ketika New Delhi menggunakan sistem senjata dalam pertempuran untuk pertama kalinya.

India telah menandatangani perjanjian untuk menjual rudal BrahMos ke Vietnam dan Filipina. Hal ini, kemudian menarik minat dari lebih dari setengah lusin negara lain, termasuk Uni Emirat Arab.

Dalam kunjungan ke Indonesia, Modi membahas keamanan maritim dan kerja sama industri pertahanan, konektivitas regional dan koordinasi strategis yang lebih luas di Indo-Pasifik dengan Prabowo Subianto. 

Pembicaraan tentang kesepakatan BrahMos diharapkan dapat fokus pada model akuisisi yang akan memungkinkan Indonesia untuk secara bertahap memperluas kemampuan rudalnya, kata sumber India ketiga, dilansir dari Reuters.

Paket yang sedang dipertimbangkan termasuk sistem rudal, infrastruktur pendukung, pelatihan operator, layanan pemeliharaan, dan bantuan teknis lainnya yang diperlukan untuk penyebaran jangka panjang, kata sumber ketiga.

Rudal BrahMos, yang dikembangkan bersama oleh India dan Rusia, merupakan  salah satu rudal jelajah tercepat di dunia dan dapat diluncurkan dari platform darat, laut, dan udara. Rudal udara-ke-udara Astra dapat diintegrasikan di luar jangkauan visual pada jet tempur Sukhoi buatan Rusia di Angkatan Udara Indonesia.

Spesifikasi BrahMos dan Astra

Astra MK1 air to air missile

Berikut adalah perbandingan singkat dan sederhana antara rudal BrahMos dan Astra agar mudah memahami perbedaannya:

Tabel Perbandingan Spesifikasi

FiturBrahMos (Jelajah)Astra (Udara-ke-Udara)
Fungsi UtamaMenghancurkan kapal/target daratMenjatuhkan pesawat tempur lawan
TipeSupersonic Cruise MissileBeyond Visual Range (BVR)
Kecepatan~Mach 2.8 (3x kecepatan suara)~Mach 4.5+ (5x kecepatan suara)
Jangkauan290 – 400+ km80 – 110 km
Hulu Ledak200 – 300 kgHigh Explosive (~15 kg)
PlatformDarat, Laut, Bawah Laut, UdaraKhusus Pesawat Tempur (Su-30MKI)

BrahMos memberikan Indonesia kemampuan “Anti-Access/Area Denial” (A2/AD), yang artinya kita bisa memaksa kapal lawan untuk menjauh dari perairan kita karena ancaman rudal yang sulit dicegat.
CNBC Indonesia

Astra memberikan Indonesia kemampuan “Superioritas Udara”, memastikan jet tempur kita memiliki perlindungan dan daya serang yang lebih mumpuni saat berhadapan dengan pesawat lawan di langit.
Defence Security Asia

Pembelian ini melengkapi dua kebutuhan berbeda: BrahMos untuk mengamankan wilayah maritim (laut/darat) dan Astra untuk mengamankan ruang udara. Keduanya bukan pembanding langsung, melainkan pelengkap dalam sistem pertahanan nasional.

In this economy, apakah ini saat yang tepat beli rudal?

Pekerja Pabrik Sritex

Terkait pembelian rudal dari India, Bendahara Negara mengatakan belum mengetahui berapa biaya pembelian rudal tersebut. Ia pun akan meminta penjelasan kepada Kementerian Pertahanan, meski ia juga menambahkan bahwa anggaran Kementerian Pertahanan sangat besar.

“Kan anggaran pertahanan cukup. Saya pikir mereka akan mengalihkan dari situ untuk belanjanya saya. Nanti saya tanyakan Kementerian Pertahanan. Tapi anggaran Kementerian Pertahanan cukup besar. Harusnya sih cukup,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, seperti yang dilansir Detik finance. Rabu (8/7/2026).

Sementara itu, perekonomian domestik Indonesia pada kuartal 1-2026 menunjukkan pertumbuhan yang solid di level 5,61%. Namun, memasuki pertengahan muncul alarm kewaspadaan mulai dari rupiah yang terus melemah, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja yang masih terus berlangsung.

Badan Pusat Statisti mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 4,68% atau setara dengan 7,24 juta orang. Namun, para pengamat ekonomi menilai persoalan pengangguran di Indonesia sebagai sebuah paradoks, dengan adanya ancaman struktural tersembunyi yang bisa memunculkan gelombang pemutusan hubungan kerja hingga akhir tahun 2026.

Suasana Pasar Modern PIK 1

Meski demikian, kondisi ekonomi masyarakat secara umum tidak sedang baik-baik saja dan berada dalam fase tekanan berat. Hal ini tercermin dari data BPS yang menunjukkan lompatan angka inflasi tahunan ke angka 3,43% per Juni 2026.

Pemicu utamanya, tentu kenaikan harga BBM non-subsidi, pelumas, tarif angkutan udara, serta inflasi pangan bergejolak (volatile food) seperti cabai, tomat, bawang merah, hingga beras.

Meski laporan angka pengangguran turun, namun kualitas lapangan kerja yang tersedia tidak mampu mendongkrak kesejahteraan. Rata-rata upah burung sebesar Rp3,29 juta berbulan sulit mengimbangi cepatnya laju inflasi bahan pokok.

Korbanya siapa lagi kalau bukan kelompok masyarakat kelas menengah. Mereka tidak memenuhi persyaratan sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah. Namun, di saat yang sama tabungan terus tergerus untuk menutupi lonjakan biaya hidup sehari-hari.

Menurut Tiltmates, mana yang lebih prioritas?

Penulis: Dzikra Imron

Sumber: Reuters

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *