Komunitas Mengaji Emak-emak Goes Digital

Anggota Masjlis Ta'lim Berfoto Bersama dengan Tim Widyatama

BANDUNG – Kita sering mengira kalau Emak-emak identik dengan urusan dapur dan domestik rumah tangga. Tapi tidak dengan 200 orang Emak-emak yang tergabung dalam Majelis Ta’lim Online Sahabat Qur’an.

Mengelola anggota dengan jumlah ratusan tentu tidak mudah, apalagi urusan membaca Al Qur’an tidak bisa dianggap sederhana, karena perlu pendampingan dan pengelolaan administrasi yang teliti.

Belum lagi, anggotanya tersebar di berbagai kota di Jawa Barat, bahkan hingga ke pulau seberang, alias Sumatra seperti di Provinsi Riau. Tak hanya itu, Majelis Ta’lim yang beralamat di Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung ini, juga punya kegiatan syi’ar lain yang sekaligus menjadi ajang unjuk prestasi melalui hadroh, kesenian tradisional dengan rebana sebagai alat musik utama sejak tiga tahun lalu.

“Alat hadroh akan kami pergunakan sebaik-baiknya untuk syiar agama Islam dan menghidupkan majelis shalawat, Insha Allah.” ungkap Euis Juangsari selaku Ketua Majelis Ta’lim Sahabat Qur’an.

Digitalisasi Jadi Sarana Dakwah Berkelanjutan

Emak Emak Memperagakan rebana
Tim Hadroh unjuk kebolehan bermain rebana, Senin, 24 Agustus 2026. (Foto: Dzikra Imron)

Di era teknologi terus merangsek ke dalam setiap sendi kehidupan, pemanfaatannya pun tak bisa dipungkiri terus berkembang. Karena itu, mengubah cara kerja, layanan, atau aktivitas dari sistem manual (analog) atau luring menjadi sistem yang berbasis komputer dan internet akan semakin terbuka lebar.

Termasuk jadwal mengaji dan kegiatan komunitas yang melibatkan ratusan anggota, sehingga program pendampingan digitalisasi pengajian online dan penguatan sarana dakwah berkelanjutan dari Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Widyatama bisa menjadi dasar komunitas untuk goes digital.

“Kami dari dosen dan mahasiswa (Prodi) Sistem Informasi akan membantu pembuatan aplikasi penjadwalan salah satunya. Kemudian nanti kalau melaksanakan kelas, pelatihan segala macam, ibu-ibu dan bapak-bapak misal sedang berkegiatan di luar kita bisa manfaatkan teknologi yang ada.’ ujar Endang Amalia selaku Ketua Pelaksana Kegiatan Pengabdian Masyarakat, Prodi Sistem Informasi, Universitas Widyatama.

Bak gayung bersambut, program pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat mempermudah anggota komunitas untuk mengakses bacaan ayat-ayat Al Qur’an tanpa harus membuka mushaf.

Seperti yang diungkap Nelis Siti Aminah, Sekretaris Sahabat Qur’an yang juga telah berperan aktif mengelola kebutuhan administratif komunitas sejak awal berdiri pada tahun 2020. “Mudah-mudahan di aplikasi itu nanti ada surat yang dibaca, kemudian tilawah kita hari ini apa tinggal ‘klik’.” ungkap Nelis.

Akademisi Jembatani Integrasi Teknologi 

Perakilan Kampus Berfoto Bersama
Perwakilan Program Studi Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Widyatama, Senin, 24 Agustus 2026. (Foto: Dzikra Imron)

Meski perkembangan teknologi pada era digital terus bergerak secara masif, tak dapat dipungkiri bahwa banyak masyarakat yang masih berkutat pada penggunaan media sosial dasar, namun belum sepenuhnya dapat memanfaatkan produk digital untuk keperluan produktif.

Berdasarkan riset Status Literasi Digital Indonesia yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Katadata Insight Center, menunjukkan bahwa tingkat pemahaman terhadap produk digital dan cara pemanfaatannya belum merata.

Masuknya kalangan akademis ke tengah masyarakat dapat menjadi jembatan strategis dalam mengatasi kesenjangan literasi dan keterampilan digital pada masyarakat.

“Lebih ke pendampingan digitalisasi sifatnya, karena misi program studi kami adalah digitalisasi dan teknologi.” papar Rosalin Samihardjo selaku Dosen Prodi Sistem Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Widyatama.

Penulis: Dzikra Imron

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top