
Tilt Mates, bayangin sebuah konser yang awalnya cuma soal musik, tiba-tiba berubah jadi debat soal free speech, soal genosida, soal siapa sebenarnya yang punya kuasa atas sebuah panggung, dan soal main character yang dianggap pengecut karena enggak bisa ngebelain temennya sendiri. Yup, itulah yang sekarang terjadi di LOOP Tour Ed Sheeran.
Masalahnya bermula dari satu kalimat yang sebenarnya cuma terdiri dari dua kata: “Free Palestine.”
Tapi dua kata itu kemudian memicu domino effect yang lumayan wild. Macklemore dicoret dari sisa tur Ed Sheeran, lalu satu per satu supporting act lainnya ikut mundur. Bahkan Beoga, band asal Irlandia yang selama ini menjadi bagian dari live band Ed Sheeran, ikut meninggalkan tur.
Jadi, ini bukan lagi sekadar drama antara satu rapper dan satu superstar. Ini sudah berubah menjadi conversation yang lebih besar: seberapa bebas seorang musisi berbicara ketika panggungnya merupakan bagian dari sebuah bisnis entertainment bernilai besar?
Semuanya bermula di MetLife Stadium
Pada 4 September 2026, Macklemore tampil sebagai opening act Ed Sheeran di MetLife Stadium, New Jersey. Di tengah penampilannya, ia memperkenalkan lagu “Hind’s Hall”, lagu yang memang berkaitan dengan dukungannya terhadap perjuangan Palestina.
Macklemore kemudian mengatakan bahwa salah satu alasan dirinya mau mengikuti tur Ed Sheeran adalah karena ia bisa berdiri di depan puluhan ribu orang di stadion dan mengatakan “Free Palestine”. Ia juga menyampaikan pesan solidaritas kepada masyarakat Gaza dan Tepi Barat yang diduduki Israel. Saat membawakan “Hind’s Hall”, visual terkait Gaza ikut ditampilkan di layar panggung.
Dan apparently, statement itu nggak berhenti di venue.
Besoknya, 5 September, Macklemore kembali membahas genosida yang dilakukan Israel di tanah Palestina dalam penampilannya di MetLife Stadium. Kali itu ia secara khusus mengatakan bahwa kritik terhadap pemerintah Israel dan penggunaan istilah seperti apartheid maupun genocide bukanlah kritik terhadap orang Yahudi. Ia kembali menekankan pesan tentang peace, love, dignity dan equality.
Lalu Venue Mulai Ikut Bicara
Setelah pernyataan Macklemore tersebut, muncul petisi dari Israeli American Council yang meminta agar sang rapper dikeluarkan dari tur. Sejumlah pihak juga mempersoalkan kehadiran Macklemore di venue-venue yang menjadi lokasi konser berikutnya.
Menurut penjelasan Ed Sheeran kemudian, beberapa pemilik stadion menyampaikan kepada pihak tur kalo mereka enggak bakal ngizinin konser berlangsung selama Macklemore tetap menjadi bagian dari lineup.
Salah satu nama yang mencuat adalah Robert Kraft, pemilik New England Patriots sekaligus Gillette Stadium.
Di sinilah persoalannya mulai berubah.
Bukan lagi cuma:
“Macklemore ngomong politik di konser.”
Melainkan:
“Bolehkah sebuah venue menentukan siapa yang boleh atau nggak boleh bicara di atas panggung?”
Macklemore akhirnya dicoret

Pada 14 September, Macklemore resmi dikeluarkan dari sisa jadwal tur Amerika Serikat Ed Sheeran. Promotor Messina Touring Group menjelaskan bahwa sejumlah venue enggak bakal menggelar konser kalo Macklemore masih berada dalam lineup. Karena konser menyangkut puluhan ribu penonton, kru, musisi, dan pekerja tur, keputusan akhirnya adalah mengeluarkan Macklemore dari sisa jadwal.
Ed Sheeran kemudian memberikan versinya sendiri. Lewat pernyataan di media sosial, Ed mengatakan bahwa keputusan tersebut bukan keputusan pribadinya, melainkan keputusan promotor setelah adanya tekanan dari venue.
Ed juga bilang dia enggak pengen ngecewain penonton yang udah beli tiket ataupun meninggalkan kru dan musisi yang menggantungkan pekerjaan mereka pada tur tersebut.
Macklemore, meanwhile, tetap mempertahankan sikapnya.
Bahkan dua hari kemudian, ia mengumumkan akan menyumbangkan US$1 juta dari penghasilannya di LOOP Tour kepada organisasi yang membantu masyarakat Palestina dan Gaza.
Plot Twist-nya Justru Datang Setelah Macklemore Pergi
Kalau promotor berpikir masalah selesai setelah Macklemore dikeluarkan, apparently… not really tho.
Justru di sinilah domino effect dimulai. Pada 15 September, satu per satu artis pendukung Ed Sheeran mengumumkan bahwa mereka mundur dari tur. Mulai dari Aaron Rowe, Lukas Graham, sampe kakaknya Billie Elish, Finneas juga cabut dari deretan opening act di LOOP Tour.
Jadi siapa yang sebenarnya “menang”?
Nah, Tilt Mates, ini bagian yang tricky. Karena kalau melihat kasus ini sebagai pertandingan biasa, kita bakal mudah terjebak pada pertanyaan:
“Ed menang atau Macklemore menang?”
Padahal persoalannya nggak sesederhana itu. Ed Sheeran bilang dirinya berusaha mempertahankan tur karena ada puluhan ribu fans yang sudah membeli tiket dan banyak pekerja yang menggantungkan penghasilan mereka dari tur tersebut.
Sementara Macklemore mempertahankan haknya untuk menggunakan panggung sebagai ruang menyampaikan sikap mengenai Palestina. Kemudian supporting acts lainnya memilih menggunakan hak mereka sendiri untuk mengatakan:
“Kalau begitu, kami juga nggak mau ikut.”
Jadi yang terjadi sebenarnya adalah benturan beberapa kepentingan sekaligus: freedom of expression, commercial interest, venue power, artist solidarity, dan audience expectation.
Dan semuanya terjadi di satu tempat yang awalnya cuma dimaksudkan untuk satu hal:
entertainment.















