
Tilt Mates, pernah enggak lagi kerja karena workload ga abis-abis, capeknya udah di luar nalar, tapi tetep aja bertahan karena takut kalo resign malah enggak ada pemasukan sama sekali? Fenomena itu sekarang ada namanya: job hugging, dan ternyata banyak banget yang mengalaminya.
Survei IDN Times yang digelar Mei sampai Agustus 2026 ke 212 responden pekerja (52,4 persennya Gen Z) menemukan 17,3 persen mengaku burnout. Angkanya malah lebih tinggi kalau dilihat dari Workplace Happiness Index milik Jobstreet, yang mencatat 43 persen responden mengalami burnout. Dari survei IDN Times, 57,6 persen bertahan di pekerjaan sambil diam-diam cari peluang lain, dan 26,9 persen bertahan walau enggak nyaman. Cuma 4,7 persen yang benar-benar resign.
Bukan Soal Males, Ini Soal Struktur
Gampang banget nge-judge “anak muda sekarang gampang capek.” Tapi riset Gen Z Workplace Expectations Report dari Zety, yang mensurvei 1.001 pekerja Gen Z di Amerika Serikat, menyebut 71 persen dari mereka melaporkan burnout. Penyebab terbesarnya bukan “kurang tahan banting”, tapi beban kerja berlebihan (76 persen), manajemen yang buruk (47 persen), kurangnya apresiasi (41 persen), dan ekspektasi kerja yang enggak jelas (36 persen).
Survei 2025 Gen Z and Millennial Survey dari Deloitte terhadap lebih dari 23.000 pekerja di 44 negara juga menemukan pola serupa: 40 persen Gen Z merasa stres atau cemas sebagian besar waktu, dan 36 persen merasa lelah sebagian besar waktu. Riset Seramount Juli 2025 menambahkan konteks generasi, mencatat 72 persen Gen Z dan 77 persen Milenial mengalami minimal satu gejala burnout, dibanding 38 persen Baby Boomer.
Burnout di Usia 25, Bukan 42
Yang bikin beda, menurut Deloitte, Gen Z mencapai titik stres tertinggi di usia 25 tahun, sekitar 17 tahun lebih cepat dibanding rata-rata pekerja Amerika yang baru burnout parah di usia 42.
Ini enggak lepas dari kondisi pasar kerja yang berubah. Riset Randstad mencatat lowongan kerja entry-level turun 29 poin persentase sejak Januari 2024. Jenjang karier yang dulunya jelas, sekarang terasa buntu, rata-rata masa kerja Gen Z di satu tempat cuma 1,1 tahun karena kesempatan naik jabatan dari dalam makin sempit. Separuh Gen Z menurut Deloitte ingin dibimbing atasannya, tapi cuma 36 persen yang benar-benar merasa dapat bimbingan itu.
Ditambah lagi, 48 persen Gen Z menurut Deloitte enggak merasa aman secara finansial, naik dari 30 persen di tahun sebelumnya. Jadi kalau ditambah tekanan sosial dari media sosial dan koneksi kerja yang enggak pernah benar-benar putus, wajar kalau capeknya datang lebih cepat.
Tandanya Bukan Cuma “Capek Biasa”
Burnout beda dengan capek yang hilang setelah tidur semalam. Studi LIMRA BEAT 2024 mencatat 91 persen Gen Z mengalami tantangan kesehatan mental setidaknya sesekali. Kalau rasa lelah, enggak bersemangat, atau merasa terlepas dari pekerjaan ini terus-menerus dan enggak hilang walau udah istirahat, itu tanda untuk berhenti sejenak dan cari bantuan, bukan sesuatu yang bisa dipaksa “semangat aja.”
Yang Bisa Dicoba Kalau Lagi di Fase Ini
Bagian ini saran dari redaksi, bukan hasil riset:
- Pisahkan “capek kerjaan” dari “capek karena diri sendiri”. Kalau sumbernya beban kerja atau manajemen yang enggak jelas, itu bukan salahmu sendirian.
- Cari ruang bicara. Baik ke rekan kerja, atasan yang suportif, atau keluarga, biar enggak dipendam sendiri.
- Batasi notifikasi kerja di luar jam kerja. Koneksi yang enggak pernah putus justru memperpanjang rasa lelah.
- Kalau rasa lelahnya udah mengganggu fungsi harian, ngobrol dengan psikolog atau konselor bisa membantu cari jalan keluar yang lebih tepat.
Jadi, Tilt Mates, kalau kamu ngerasa capek duluan sebelum sempat mulai, itu enggak berarti kamu lemah. Banyak hal di luar dirimu yang ikut membentuk rasa itu. Yang penting, jangan dipendam sendirian.















