, ,

Mengurai Benang Kusut Deforestasi Lewat Jurnalisme Data

JAKARTA — Di balik rimbunnya hutan Indonesia dan hamparan perkebunan kelapa sawit yang membentang luas, tersimpan fakta berbasis data yang menanti untuk diungkap, demi masa depan bumi, khususnya hutan tropis Indonesia. Namun, bagaimana menyajikan data komoditas dan deforestasi yang rumit menjadi sebuah laporan berita yang tajam, sahih, sekaligus memikat pembaca awam? Pertanyaan inilah yang menjadi…

Foto: Nazarizal Mohammad/Unsplash
Perkebunan kelapa sawit di Borneo. Foto: Nazarizal Mohammad/Unsplash

JAKARTA — Di balik rimbunnya hutan Indonesia dan hamparan perkebunan kelapa sawit yang membentang luas, tersimpan fakta berbasis data yang menanti untuk diungkap, demi masa depan bumi, khususnya hutan tropis Indonesia.

Namun, bagaimana menyajikan data komoditas dan deforestasi yang rumit menjadi sebuah laporan berita yang tajam, sahih, sekaligus memikat pembaca awam?

Pertanyaan inilah yang menjadi pijakan utama dalam Workshop Data Journalism yang digelar oleh Auriga Nusantara bersama Trase di ORIA Hotel Jakarta. Selama sehari penuh, mulai pukul 08.30 hingga 17.00 WIB, sebanyak 15 jurnalis lingkungan pilihan dari wilayah Jabodetabek dan Bandung berkumpul untuk mengasah keterampilan mengolah data ilmiah menjadi konten jurnalistik yang tidak membosankan.

Trase, sebuah nirlaba yang berdiri pada 2015 atas inisiatif Stockholm Environment Institute (SEI) dan Global Canopy, serta Auriga Nusantara yang berfokus pada kelestarian sumber daya alam, membagikan metodologi praktis. Melalui platform Trase dan MapBiomas Indonesia, para peserta menelusuri dan mengulik platform data terintegrasi yang dihimpun dari berbagai sumber kredibel, mulai dari lembaga pemerintah dan lembaga penelitian independen. Hasilnya adalah metodologi analisis data terverifikasi dengan akurasi sekitar 70 persen, sebuah standar ketat yang dengan kemasan menarik dan simple, agar tetap ramah bagi masyarakat non-scientist, termasuk jurnalis.

Kejutan Data: Konsumsi Domestik Jadi Pemicu Utama

Dalam sesi praktik, para jurnalis fokus membongkar data komoditas-komoditas yang paling rentan memicu deforestasi di Indonesia. Hasil analisis paparan dari para peneliti menyajikan gambaran menarik sekaligus menghentak mengenai peta deforestasi nasional.

Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan rekor produksi mencapai 47 juta ton pada tahun 2024, Indonesia mencatatkan rekor baru. Lebih dari separuh serapan total produksi minyak sawit nasional justru merupakan konsumsi pasar dalam negeri. Peningkatan permintaan pasar domestik berbanding lurus dengan dampak lingkungan, yaitu penggunaan sawit di dalam negeri menyumbang dua pertiga dari total deforestasi yang didorong oleh komoditas sawit di Indonesia pada 2024.

Valuasi perdagangan minyak kelapa sawit di setiap daerah produsen
Valuasi perdagangan minyak kelapa sawit di setiap daerah produsen. Sumber: Trase 2024

Secara geografis, Pulau Kalimantan masih memegang porsi terbesar dengan menyumbang 56% dari total deforestasi akibat sawit. Namun, sinyal bahaya paling nyaring datang dari timur Indonesia, di mana tingkat deforestasi di Papua tercatat meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2025.

Sementara itu di pasar global, India tetap bertahan sebagai pasar ekspor terbesar untuk minyak sawit Indonesia, disusul oleh Pakistan yang baru-baru ini merangsek naik melampaui posisi Tiongkok di peringkat ketiga.

Sisi Terang Komitmen Industri dan Keselamatan Jurnalis

Di tengah potret buram dampak deforestasi, workshop ini juga memaparkan dinamika perbaikan sektor swasta. Sejumlah perusahaan dan grup pelaku usaha pengekspor sawit di Indonesia secara bertahap mulai melakukan reformasi progresif guna memenuhi komitmen pasokan bebas deforestasi (zero-deforestation commitments).

Workshop ini menghadirkan para pakar di bidangnya, antara lain Jason Jon Benedict (Peneliti Trase), Adelina Chandra (Data Scientist Trase), serta tim peneliti dari MapBiomas Indonesia.

Data Journalism Workshop Auriga x Trase di ORIA Hotel, Jakarta. Rabu, 14 Oktober 2026
Data Journalism Workshop Auriga x Trase di ORIA Hotel, Jakarta. Rabu, 14 Oktober 2026. Foto: Dokumentasi Auriga

Menutup sesi, Gisele Souza Neuls, Communications Lead dari Trase, memberikan catatan krusial mengenai realitas lapangan yang dihadapi wartawan. Ia mengingatkan bahwa jurnalis lingkungan, baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia menghadapi tantangan dan ancaman keselamatan yang semakin kompleks.

Oleh karena itu, keberanian mengolah data kritis harus diimbangi dengan mitigasi risiko yang matang. Himbuan bagi para jurnalis untuk selalu mempersiapkan diri dengan baik dan menempatkan keselamatan jiwa serta keamanan data sebagai prioritas utama saat menyusun laporan investigasi berbasis data ilmiah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *