
Laporan Komisi WHO tentang Koneksi Sosial yang dirilis 30 Juni 2025 menyebut satu dari enam orang di dunia terdampak kesepian. Tapi, Tilt Mates, sendirian dan kesepian ternyata bukan hal yang sama, dan riset psikologi udah lama membedakannya.
Mungkin kamu kenal orang yang santai banget nonton bioskop, makan di kafe, bahkan liburan sendirian, dan enggak pernah merasa kesepian. Bisa jadi orang itu kamu sendiri. Being alone doesn’t mean lonely, dan ini bukan cuma soal selera.
Kesepian memang bukan hal sepele. WHO mengaitkannya dengan lebih dari 871.000 kematian per tahun, dan sekitar 17 sampai 21 persen anak muda usia 13 sampai 29 tahun melaporkan merasa kesepian. Justru karena itu, penting untuk paham apa sebenarnya yang dimaksud kesepian.
Sendirian dan Kesepian Itu Beda
Menurut WHO, isolasi sosial adalah keadaan objektif: seseorang punya terlalu sedikit peran, hubungan, dan interaksi dengan orang lain. Kesepian adalah perasaan subjektif yang menyusahkan, muncul ketika ada jarak antara koneksi sosial yang dimiliki dan yang dibutuhkan atau diinginkan.
Waktu sendiri (solitude) yang kita bahas di sini beda lagi: ini soal menghabiskan waktu tanpa orang lain, bukan soal punya sedikit hubungan. Christopher Long dan James Averill dalam makalah 2003 menyebut solitude sering kali keadaan positif yang justru dicari, bukan dihindari. Manfaatnya, menurut mereka, mencakup kebebasan, kreativitas, keintiman, dan spiritualitas.
Kuncinya Ada di Pilihan, Bukan Durasi
Tim peneliti yang dipimpin Netta Weinstein dari University of Reading meminta 178 orang dewasa di Inggris dan Amerika Serikat mengisi catatan harian selama 21 hari. Hasilnya bercabang dua. Di hari dengan lebih banyak waktu sendirian, peserta cenderung merasa lebih kesepian dan kurang puas dengan harinya.
Tapi efek itu hilang atau berkurang kalau waktu sendirinya dipilih sendiri. Waktu sendirian juga berkaitan dengan stres yang lebih rendah dan rasa otonomi yang lebih besar. Peneliti enggak menemukan bukti adanya takaran ideal yang cocok untuk semua orang (Scientific Reports, 2023). Artinya, dua orang dengan jam sendirian yang sama bisa merasakan hari yang berbeda, tergantung apakah mereka memilihnya.
Enggak Semua Orang Langsung Menikmatinya
Jennifer Lay dan rekan-rekannya dari University of British Columbia meminta 100 orang dewasa berusia 50 tahun ke atas dan 50 mahasiswa melaporkan perasaan mereka tiga kali sehari selama 10 hari. Menurut ringkasan SPSP atas studi itu, sekitar separuh peserta lebih sering mengalami waktu sendiri yang enggak nyaman, dengan rasa kesepian dan pikiran yang berputar-putar. Sekitar seperempatnya terutama mengalami waktu sendiri yang tenang.
Mereka yang menikmatinya cenderung lebih percaya diri secara sosial dan sengaja mencari waktu sendiri (Journal of Personality, 2019). Jadi, kalau kamu belum nyaman sendirian, itu bukan berarti ada yang salah denganmu.
Kalau Lagi Kesepian, Bisa Diubah Sudut Pandangnya?
Micaela Rodriguez dan timnya menguji 212 orang yang merasa kesepian. Sebelum menghabiskan 10 menit sendirian, sebagian dari mereka membaca bahwa waktu sendiri punya manfaat. Kelompok itu mengalami kenaikan emosi positif berenergi rendah, seperti rasa tenang, yang lebih besar dibanding kelompok kontrol.
Tapi ini eksperimen laboratorium dengan durasi cuma 10 menit, jadi efek jangka panjangnya belum diketahui. Kalau rasa sepi terus menetap dan mengganggu, ngobrol dengan psikolog atau konselor bisa membantu.















