, ,

Untung Rugi Kejadian Gunung Meletus

BANDUNG – Rentang waktu 4-6 September 2026, sekitar 6 gunung api di Indonesia erupsi dalam waktu hampir bersamaan. Ketika gunung api meletus, itu bukan hukuman. Tapi pengingat kalau manusia memiliki batas.  Karena itu, selalu ada pelajaran berharga yang bisa manusia petik. Lalu apa saja yang bisa kita lihat dari fenomena alam ini? Dampak Ekonomi Letusan…

Pemandangan Puncak Merapi dari Pesawat
Puncak Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah dari Pesawat, Rabu, 27 Juni 2018. (Foto: Dzikra Imron/TiltUp Indonesia)

BANDUNG – Rentang waktu 4-6 September 2026, sekitar 6 gunung api di Indonesia erupsi dalam waktu hampir bersamaan. Ketika gunung api meletus, itu bukan hukuman. Tapi pengingat kalau manusia memiliki batas. 

Karena itu, selalu ada pelajaran berharga yang bisa manusia petik. Lalu apa saja yang bisa kita lihat dari fenomena alam ini?

Dampak Ekonomi Letusan Gunung Api

Saat Gunung Anak Krakatau memuntahkan lava pada 6 September 2026, abu vulkanik melintasi ruang udara, yang memengaruhi 15%-25% jadwal penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, dan 40%-60% di Bandara Radin Inten II Lampung, mengalami penundaan penerbangan.

Perkiraan kerugian ekonomi akibat penundaan penerbangan hingga pembatalan penerbangan domestik menuju Pulau Sumatera bagian selatan dan penerbangan internasional, seperti Australia harus memutar melalui bagian utara, sehingga menambah waktu tempuh sekitar 20 hingga 40 menit per penerbangan.

Menurut proyeksi INACA atau Asosiasi Perusahaan Penerbangan Indonesia, maskapai mengalami kerugian Rp10 miliar hingga Rp19 miliar per hari karena membengkaknya biaya operasional.

ilustrasi dampak ekonomi dari letusan gunung berapi pada sektor penerbangan

Beban biaya operasional tambahan yang harus maskapai tanggung, seperti konsumsi avtur, crew, parkir pesawat, refund tiket, hingga biaya sewa pesawat.

“Dalam simulasi 30 sampai 50 penerbangan yang batal dengan load factor sekitar 80%, pendapatan yang hilang bisa mencapai sekitar Rp8 miliar sampai Rp15 miliar dalam sehari. Itu belum memasukkan biaya operasional tambahan maupun penanganan penumpang,” kata Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto. Selasa (8/9/26).

Secara alamiah, meletusnya gunung berapi merupakan fenomena alam karena aktivitas di dapur magma, baik di bawah, di dalam, maupun di atas atau permukaan gunung.

“Gunung api dapat meletus sebagai akibat peningkatan bouyancy dan mobilitas tubuh magma,” ujar Vulkanolog ITB Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T., 

Apakah Bisa Memprediksi Kapan Gunung Api Meletus?

Ilustrasi letak geografis Indonesia di jantung Cincin Api Pasifik dengan 127 gunungapi aktif

Sebagai Negara yang terletak pada jalur cincin api, dengan jumlah gunung api aktif sebanyak 127, mungkinkah indonesia  dapat memprediksi kapan gunung akan meletus?

Tak ada yang pasti dalam membaca perilaku alam, tapi manusia dengan pengalaman dan perkembangan teknologi dapat memantau aktivitas vulkanik gunungapi untuk memperkirakan aktivitas gunungapi, dan mengenali karakter sebuah gunung. 

Jika menggunakan analogi seorang dokter dalam menangani pasien, maka rekam jejak letusan gunung api dengan rekam medis seorang pasien merupakan cara sangat tepat untuk memahami bagaimana para ahli vulkanologi bekerja.

Secara ilmiah, erupsi gunung api tidak dapat diprediksi secara pasti kapan tanggal atau jam persisnya, tetapi aktivitasnya dapat diperkirakan atau diprakirakan melalui pemantauan prekursor atau tanda-tanda awal.

Vulkanologi tidak memberikan tanggal pasti seperti ramalan, melainkan Tingkat Aktivitas (Status Gunung Api) — mulai dari Normal (Level I), Waspada (Level II), Siaga (Level III), hingga Awas (Level IV). Sistem peringatan dini berbasis ambang batas indikator inilah yang digunakan untuk evakuasi keselamatan warga.

Manfaat Letusan Gunung Api

Ilustrasi manfaat gunung api membuat tanah menjadi subur

Sekarang, kita geser dulu persepsi soal gunung api yang destruktif. Dan kita lihat gunung api secara geologis, yang merupakan mekanisme utama bumi dalam meregenerasi ekosistem dan menyeimbangkan dinamika planet.

Dalam jangka panjang, material vulkanik yang terlontar saat erupsi—seperti abu vulkanik, pasir, dan batuan—mengandung mineral penting seperti kalium, fosfor, magnesium, dan kalsium. Berdasarkan penjelasan dari United States Geological Survey (USGS) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pelapukan material vulkanik ini dalam hitungan tahun hingga dekade akan membentuk tanah andosol yang sangat subur, yang menjadi penopang utama ketahanan pangan dan produktivitas pertanian di wilayah lingkar Pasifik (Ring of Fire).

Selain menyuburkan tanah, fenomena letusan gunungapi berperan vital dalam membentuk bentang alam baru dan menyediakan sumber daya energi terbarukan yang melimpah. Proses magmatisme memicu pembentukan sistem panas bumi (geothermal) raksasa di bawah permukaan. 

Ilustrasi manfaat dari letusan gunung api sebagai sumber energi

Menurut International Geothermal Association (IGA), wilayah vulkanik aktif menyimpan potensi energi bersih berkelanjutan yang mampu mengurangi ketergantungan global terhadap bahan bakar fosil. Di sisi lain, endapan material hasil erupsi juga menghasilkan komoditas tambang galian golongan C—seperti pasir dan batu pasir berkualitas tinggi—serta jebakan mineral berharga seperti emas, tembaga, dan perak yang terbentuk dari hidrotermal magmatik.

Dampak positif letusan gunungapi bahkan menjangkau skala global melalui pengaruhnya terhadap dinamika atmosfer dan pembentukan daratan baru. Laporan ilmiah dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dan NASA Earth Observatory mencatat bahwa injeksi gas belerang dioksida ($\text{SO}_2$) dalam jumlah masif ke lapisan stratosfer saat erupsi besar dapat membentuk aerosol sulfat yang memantulkan radiasi matahari kembali ke luar angkasa, sehingga secara sementara memicu pendinginan suhu global (volcanic winter effect). Sifat ganda gunungapi ini dirangkum secara tepat oleh mantan Kepala PVMBG, Dr. Surono, yang menegaskan bahwa “Gunungapi adalah rahim bagi kehidupan; ia memang mengambil jiwa dan harta saat meletus, tetapi memberi kehidupan dan kesejahteraan bagi jutaan manusia untuk ribuan tahun setelahnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *