Perubahan Iklim Perparah Gelombang Panas di Eropa

Wanita berusia 82 tahun mencoba untuk mendinginkan diri di rumahnya di pusat kota Veracruz Meksiko

6 Juli 2026 – Eropa mendesis di bawah gelombang panas awal Juni lalu, dengan jutaan warga Prancis, Italia, Spanyol, dan Inggris harus bertahan pada suhu yang sangat tinggi. Tiltmates, berdasarkan pendapat ahli fenomena ini dikenal dengan sebutan kubah panas atau heat dome. 

Perubahan iklim membuat dampaknya semakin parah, karena durasi gelombang panas ini jadi semakin kuat, lebih lama, dan semakin intens. 

Bagaimana heat wave terjadi?

Biang kerok dari itu semua apa lagi kalau bukan Karbon dioksida dan gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil yang semakin memanaskan planet tercinta ini, dan memengaruhi gelombang panas, jelas Ahli Meteorologi Koneksi Iklim Yale, Robert Henson.

Gelombang panas didefinisikan sebagai bentangan hari di mana suhu jauh lebih panas, bahkan di atas rata-rata normal. Dan fenomena ini bisa sama mematikannya dengan peristiwa cuaca ekstrem lainnya yang lebih tampak secara “visual,” kata Henson.

“Kami cenderung memikirkan peristiwa cuaca yang mematikan sebagai hal-hal yang dramatis dan visual, seperti badai atau tornado atau banjir bandang,” dia memperingatkan. Tapi “panas bisa sama berbahayanya dan sama mematikannya.”

Apa sih heat dome?

Ilustrasi Heat Dome

Sementara itu, istilah “kubah panas” atau heat dome, menggambarkan massa besar udara panas yang meluas di permukaan bumi dan dapat meluas hingga ratusan mil secara horizontal.

Di dalam zona kubah panas, biasanya tidak terdapat banyak awan untuk menghalangi matahari, jadi sinar matahari langsung menembus permukaan bumi.

“Anda sering mendapati udara yang turun atau mengendap dan itu tidak hanya cenderung menghangatkan, tetapi juga membuatnya lebih sulit untuk hujan,” kata Henson.

Pada malam hari, panas semakin berbahaya. “Jika Anda tidak memiliki AC dan suhu tidak turun di bawah 80 Fahrenheit (26,6 derajat Celcius) tubuh Anda tidak akan mendapatkan kesempatan untuk mendinginkan diri dan pulih,” para ahli mengingatkan.

Panas yang berkepanjangan dapat sangat berbahaya bagi orang dewasa, terutama yang berusia lanjut, apalagi jika memiliki riwayat pernah terserang heat stroke atau gelombang panas sebelumnya.

Perkotaan menjadi wilayah yang semakin panas lebih cepat panas ketimbang daerah pedesaan. Hal ini, karena  karena lingkungan yang dibangun, dan lingkungan berpenghasilan rendah lebih menderita, sering kali kekurangan penutup pohon. “Jadi menempatkan tanaman hijau di kota-kota sangat penting,” kata Henson.

Prancis paling terdampak, banyak warga tak miliki AC

Penanda Suhu 44C di Athena Yunani

Sejauh ini, Prancis jadi negara yang paling merasakan dampak meluas. Hal ini karena sebagian besar warganya tidak memiliki pendingin udara yang merata, padahal nyaris separuh wilayah Prancis berada pada mode peringatan berwarna merah, yang artinya suhu sangat panas oleh layanan cuaca nasional. Negara dengan 69 juta lebih penduduk ini juga telah melaporkan sekitar 40 kematian akibat tenggelam, karena orang-orang mencari bantuan pendinginan dalam air.

Kondisi ini, diperkirakan akan berlangsung selama beberapa hari, dengan suhu mencapai 104 derajat Fahrenheit (40 derajat Celcius).

“Kita akan melihat catatan suhu bulan Juni tidak hanya rusak, tetapi benar-benar dimusnahkan,” kata Liz Bentley, kepala eksekutif di Royal Meteorological Society dan seorang profesor meteorologi di Universitas Reading.

Di Prancis, misalnya, kereta api, konser, dan acara olahraga telah dibatalkan, dan pihak berwenang membatasi minum alkohol di depan umum.

Perubahan Iklim Ekstrim Jadi Biang Kerok

Para Ahli berpendapat, perubahan iklim membuat kondisi kubah panas terjadi lebih sering, dan semakin banyak negara di seluruh dunia yang terkena dampak.

 “Dan saat Anda menggeser kisaran suhu itu, Anda membuat suhu ekstrem jauh lebih mungkin terjadi. Secara efektif, dunia telah menaikkan suhu termostat,” kata Bentley.

Semetara itu, Jennifer Francis, seorang ilmuwan iklim di Pusat Penelitian Iklim Woodwell mengatakan “Kami menghangatkan dunia dan itu berarti kami menggeser kisaran suhu yang dialami tempat tertentu”. Perubahan iklim pasti akan membuat fenomena ini jadi sering terjadi dengan lebih intens.

Gelombang panas tahun 2026 ini memakan korban jiwa setidaknya 2.000 lebih meninggal dunia.

Penulis: Dzikra Imron

Sumber: APTN

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *