Malam yang Hilang: Mengapa Indonesia Perlu “Memadamkan” Polusi Cahaya?

Orang berjalan di bawah sorotan lampu videotron dari Plaza Indonesia

Jakarta – Polusi cahaya di Indonesia semakin parah, terutama di dua kota besar Jakarta dan Bandung. Di Jakarta, 90% warganya tidak lagi bisa melihat Galaksi Bimasakti. Di Bandung, polusi cahaya mengancam Observatorium Bosscha. Pahami dampak kesehatan, ekosistem, serta solusi hemat energi demi langit gelap.

Mengapa Cahaya Bisa Menjadi Polutan?

Mungkin terdengar aneh menganggap cahaya sebagai polusi. Namun, cahaya menjadi polutan ketika ia digunakan secara berlebihan, salah sasaran, dan tidak efisien.

Sama seperti sampah yang menumpuk di sungai, cahaya buatan yang memancar ke langit (skyglow) menciptakan “kabut cahaya” yang menutupi kegelapan alami malam. Cahaya yang “bocor” ke kamar tidur (light trespass) atau lampu papan reklame yang menyilaukan (glare) adalah bentuk nyata dari gangguan lingkungan yang merusak siklus alami makhluk hidup.

Indonesia dalam Kepungan Cahaya

Di Indonesia, masalah ini bukan lagi sekadar isu estetika, melainkan ancaman serius, kenapa?

  1. Jakarta: Kota yang Tak Pernah Tidur dan Terlalu Terang

Kota dengan jumlah penduduk sebanyak 11 Juta Jiwa ini menjadi salah satu titik paling terang di Asia Tenggara. Cahaya dari gedung pencakar langit dan reklame raksasa membuat warga Jakarta hampir mustahil melihat galaksi Bima Sakti dengan mata telanjang.

  1. Bandung & Ancaman terhadap Observatorium Bosscha

Observatorium Bosscha di Lembang kini sedang “sekarat” secara fungsional. Pendaran cahaya dari Kota Bandung dan pembangunan masif di Bandung Barat membuat langit Lembang terlalu terang. Akibatnya, teleskop canggih milik ITB kesulitan menangkap cahaya lemah dari bintang-bintang jauh.

Sorotan lapu panggung saat konser Cokelat di acara Semesta Berpesta

Belajar dari Tetangga: Singapura dan Hong Kong

Jika penggunaan lampu dan tata cahaya perkotaan tidak diatur dari sekarang, Indonesia bisa bernasib sama seperti Singapura—negara dengan polusi cahaya terburuk di dunia. Di sana, 100% populasi tidak pernah merasakan kegelapan malam yang asli. Dampaknya? Gangguan ritme sirkadian pada manusia yang memicu insomnia hingga risiko kanker, serta kacaunya navigasi hewan migran dan penyu yang gagal menemukan laut karena tertipu lampu pantai.

Negara yang Berhasil “Menyelamatkan” Bintang

Ternyata, beberapa negara telah membuktikan bahwa kemajuan ekonomi tidak harus membunuh malam, berikut contohnya:

Selandia Baru (Aoraki Mackenzie): Menetapkan International Dark Sky Reserve dengan aturan lampu jalan yang memakai tudung bawah, sehingga Bima Sakti terlihat sangat jelas dan menjadi daya tarik wisata dunia.

Slovenia: Negara pertama di dunia yang memiliki undang-undang nasional polusi cahaya, mewajibkan semua lampu luar ruangan menggunakan pelindung agar cahaya tidak bocor ke langit.

Para astronom sering menyuarakan kekhawatiran ini. Dr. Premana W. Premadi, astronom senior dari Observatorium Bosscha, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa polusi cahaya bukan hanya masalah bagi astronom, tapi masalah kemanusiaan.

“Langit gelap adalah warisan alam. Tanpa langit yang bersih, kita kehilangan laboratorium alam terbesar untuk memahami alam semesta, dan manusia kehilangan koneksi spiritual serta puitis dengan alam semesta,” tuturnya.

Suasana Jalan MH Thamrin yang penuh cahaya lampu dari kendaraan

Selamatkan langit malam kita! Matikan lampu yang tidak perlu!

Jika polusi cahaya tidak segera diatur melalui regulasi (seperti Perpres Cekungan Bandung), kita akan menghadapi, tantangan lingkungan seperti, kematian massal serangga penyerbuk yang aktif di malam hari.Contoh, punahnya kunang-kunang. Krisis Energi, perlu miliaran rupiah hanya untuk terbuang sia-sia menyinari langit yang tidak membutuhkan lampu. Bagi manusia, bisa berdampak pada gangguan hormon melatonin yang merusak kualitas tidur masyarakat urban.

Mari Menata Cahaya

Indonesia perlu menyadari bahwa gelap adalah kebutuhan biologis. Mematikan lampu yang tidak perlu, menggunakan tudung lampu, dan memilih warna cahaya yang lebih hangat (kuning/amber) adalah langkah awal untuk mengembalikan kemilau Bima Sakti ke langit Nusantara.

Gunakan tudung lampu yang mengarah ke bawah, dan pilih cahaya kuning hangat di rumah, Tiltmates!. Setiap langkah kecil membantu menjaga kesehatan kita, ekosistem hewan malam, dan kejernihan bintang di atas Observatorium Bosscha.(DZK)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *