Musik Jazz Jembatani Musisi Bangun Koneksi

PJoseph Ijong Dachlan - Marketing Manager Kota Baru Parahyangan Musisi Dwiki Dharmawan, Vence Manuhutu berbincang jelan press conference TPJF 2026 di Mirten Lounge, The Papandayan Hotel. (03/09/2026)

Bandung – Memasuki usia penyelenggaraan ke-11 The Papandayan Jazz Festival mendobrak kelaziman dengan menggandeng musisi lintas genre dan generasi. Festival besutan the Papandayan Hotel Bandung ini, mengajak para penikmat musik merasakan jazz sebagai pengalaman membangun koneksi yang menyentuh emosi, dengan kesan mendalam.

Sejak awal inisiasi, TPJF telah menetapkan komitmen sebagai wadah bertemu dan bertumbuhnya komunitas budaya yang berkelanjutan di Bandung. Benar saja, konsistensi selama satu dekade lebih perjalanan terus memberi ruang untuk berkolaborasi dan berinovasi bagi para musisi jazz dengan talenta mendunia.

“Berangkat dari niatan dari kurator. Waktu itu ingin memiliki wadah yang dapat mendukung ke budaya yang berkelanjutan harus dibina dari sekarang. Diantaranya dengan mengusung jazz universe antara jazz dan non jazz.” papar Bobby Renaldy, founder TP Jazz Management sekaligus General Manager The Papandayan Hotel, dalam Konferensi Pers The Papandayan Jazz Festival 2026 di Mirten Lounge, the Papandayan Hotel (03/09/2026).

Joseph Ijong Dachlan - Marketing Manager Kota Baru Parahyangan, Dwiki Dharmawan -  Musisi,
Joseph Ijong Dachlan – Marketing Manager Kota Baru Parahyangan, Bobby Renaldy – Founder TPJF, Dwiki Dharmawan – Musisi, dan Tyagita R. Herwawan – Event Director TP Jazz Management dalam Konferensi Pers di Mirten Lounge, The Papandayan Hotel, Kamis, 3 September 2026. (Foto: Dzikra Imron)

Gelaran yang melibatkan kurang lebih 100 penampil ini mengusung tema Sound to the Soul, dengan Maestro jazz Indonesia, Dwiki Dharmawan sebagai Music Director dan pemimpin tim kurator. 

Pemilihan talenta pun melalui proses kreatif panjang dengan kepercayaan penuh terhadap talenta-talenta dengan dedikasi tinggi di belantika musik jazz tanah air. Gelaran yang digagas bersama musisi legendaris Harry Pocang dan Vence Manuhutu, konsisten ingin mempertahankan TPJF sebagai wadah berkarya dan kolaborasi untuk mendorong ekosistem musik jazz yang berkelanjutan.

“Semoga ini berkelanjutan dan pengalaman saya terkadang kalau memberikan saran secara terbuka santai saja rileks apa yang terpikir tapi kalau di sini kalau di silakan jadi barang saya ngomong.” ujar musisi yang baru merayakan ulang tahun ke-60 tahun ini. (03/09/2026).

Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan sebuah event terus dapat terselenggara, karena itu proses kurasi dan pemilihan talenta menjadi momen krusial, meski harus melewati diskusi panjang dan alot. Hal ini terungkap dalam deret line up yang akan memeriahkan tiga hari pertunjukan, yang akan dibagi dalam enam panggung tematik.

Tyagita R. Hermawan selaku Event Director, TP Jazz Management di The Papandayan Hotel. (03092026)
Tyagita R. Hermawan selaku Event Director, TP Jazz Management di Mirten Lounge, The Papandayan Hotel, Kamis, 3 September 2026. (Foto: Dzikra Imron)

Pada penyelenggaraan tahun ini, TPJF tetap memberi ruang penuh bagi jazz dengan menghadirkan pengalaman-pengalaman baru bagi penikmatnya melalui kolaborasi lintas genre yang belum pernah ada sebelumnya.

“Nah, inilah yang kami usung di tahun sekarang karena secara percentage kami 68% adalah proses kreatif program jadi jazz tetap jadi home-nya jazz di Bandung kemudian 60 bentuknya spesial project dan collaboration.” jelas Tyagita R. Hermawan selaku Event Director, TP Jazz Management di The Papandayan Hotel. (03/09/2026)

Sebelum penyelenggaraan festival utama pada 3-4 Oktober 2026 mendatang, TPJF melakukan pemanasan dengan menggelar konser bertajuk TP Jazz Universe: Greatest Movie Soundtrack di Mason Grand Ballroom pada Jum’at, 4 September 2026 yang terselenggara berkat kerjasama baik dengan Kota Baru Parahyangan.

Penulis: Dzikra Imron

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top