
Bandung, 8 Juni 2026 — Di era sekarang, keluhan kalimat “In this economy?” bukan lagi sekadar bumbu percakapan, melainkan sebuah mantra pertahanan hidup bagi anak muda dan kelas menengah. Secara makro, Badan Pusat Statistik (BPS) mendongengkan cerita indah: ekonomi tumbuh manis sebesar 5,61% secara tahunan (YoY). Sebuah angka yang megah kan, Tiltmates?.
Namun, jika melihat ke bawah, ada paradoks yang membingungkan. Mengapa di saat pertumbuhan ekonomi “melejit,” jumlah kelas menengah Indonesia justru menyusut tajam hingga jutaan orang kehilangan statusnya?. Di sinilah letak sudut pandang yang sering terlewat, bahwa anak muda bukan tidak paham ekonomi, mereka justru sedang beradaptasi dengan cara yang paling radikal.
Doom Spending: Ketika Rumah Mustahil Terbeli, Kopi Susu Jadi Solusi
Sudut pandang konvensional menyalahkan anak muda yang gemar jajan kopi premium atau konser sebagai penyebab mereka sulit kaya. Padahal, yang terjadi adalah nihilisme finansial.
Ketika nilai tukar rupiah melemah tembus Rp18.095,70 (7/06/2026) per dolar AS, harga properti meroket tak terkejar, dan upah riil jalan di tempat. Anak muda pun menyadari satu hal, bahwa impian membeli rumah atau aset masa depan sudah bergeser dari “sulit” menjadi “mustahil”.
Sebagai gantinya, mereka melakukan apa yang disebut para psikolog ekonomi sebagai doom spending. Yaitu, perilaku menghabiskan uang untuk kesenangan instan jangka pendek (seperti makanan enak atau liburan mikro) sebagai pelarian dari stres masa depan yang buram.
Tiltmates, ini bukan pemborosan tanpa arah, melainkan cara rasional untuk membeli “dopamin” eceran karena mereka tahu menabung secara ekstrem pun tidak akan bisa mengejar inflasi harga tanah.
“Artinya emosi dan stres dari internal diri sendiri Ini juga sangat berpengaruh kemudian dengan kata-kata self reward sudah mulai capek kerja Sudah mulai bosan dan lain-lain harus kasih penghargaan untuk diri sendiri.” Ungkap Rista Zwestika, Perencana Keuangan.
Kelas Menengah: Kelompok yang “Terlalu Kaya untuk Dibantu, Terlalu Miskin untuk Bertahan”

Kerapuhan terbesar kelas menengah adalah posisinya yang berada di area abu-abu. Kelompok miskin mendapatkan jaring pengaman sosial berupa Bantuan Sosial (Bansos), sedangkan kelompok kaya terlindungi oleh aset berbasis dolar atau emas.
Kelas menengah menanggung beban paling berat dari fluktuasi rupiah karena struktur pengeluaran mereka sangat sensitif terhadap kurs global (mulai dari gawai, kendaraan, hingga biaya langganan digital). Begitu rupiah anjlok, industri manufaktur tempat mereka bekerja melakukan efisiensi biaya, menciptakan fenomena “mantab” (makan tabungan) demi menutup defisit bulanan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengingatkan bahwa fenomena keputusasaan finansial ini nyata. Menurutnya, kombinasi antara tekanan ekonomi makro, minimnya literasi keuangan, dan fleksibilitas pasar kerja informal yang tidak menentu membuat generasi muda rentan terjebak dalam lingkaran utang konsumtif dan paylater.
Menatap Masa Depan: Sampai Kapan “Mode Bertahan” Ini?

Kemudian muncul pertanyaan, sampai kapan kita harus hidup dalam kondisi paradoks ini? Para pengamat memproyeksikan bahwa ketidakpastian ini masih akan membayangi hingga awal tahun depan. Langkah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi obat penenang sementara bagi rupiah. Namun, pemulihan daya beli riil masyarakat akar rumput membutuhkan waktu lebih lama.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, memproyeksikan bahwa ketidakpastian ini masih akan membayangi hingga kuartal berikutnya. Langkah cepat Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,25 persen jadi obat penenang untuk menahan kejatuhan rupiah lebih dalam.
Namun, pemulihan daya beli kelas menengah secara riil diprediksi membutuhkan waktu dan sangat bergantung pada meredanya tensi geopolitik global di Timur Tengah, serta kepastian arah kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). Selama suku bunga global bertahan tinggi, tekanan kurs akan terus menuntut masyarakat Indonesia untuk hidup dalam “mode bertahan” hingga akhir tahun.
In this economy, tantangan terbesar anak muda bukan lagi sekadar bekerja lebih keras, melainkan bagaimana menjaga kesehatan mental keuangan di tengah angka statistik yang terus berbohong pada dompet mereka.
Penulis: Dzikra Imron


