
JAKARTA – Kamu mungkin pernah mengalaminya: baru saja memejamkan mata dan mulai merasa rileks, tiba-tiba seluruh tubuh Kamu tersentak kaget seperti baru saja jatuh dari ketinggian atau tersandung. Sensasi ini sering kali membuat jantung berdebar dan kesadaran kembali penuh seketika.
Dalam dunia medis, fenomena ini disebut sebagai Hypnic Jerk atau sleep start. Meski terasa mengejutkan, para ahli menegaskan bahwa ini bukan merupakan gangguan penyakit yang serius, melainkan sebuah miskomunikasi antara otak dan otot.
Apa yang Terjadi pada Tubuh?
Hypnic jerk terjadi pada fase transisi antara terjaga dan tidur ringan (fase NREM stage 1). Saat otot-otot tubuh mulai rileks secara mendalam, otak terkadang salah mengartikan sinyal tersebut sebagai tanda bahwa tubuh sedang jatuh atau kehilangan keseimbangan. Akibatnya, otak mengirimkan sinyal darurat ke otot untuk segera berkontraksi guna “menyelamatkan” diri.
Pernyataan Pakar
Fenomena ini dialami oleh sekitar 60-70 % populasi manusia. Dr. Raj Dasgupta, seorang profesor klinis kedokteran di University of Southern California dan juru bicara American Academy of Sleep Medicine, menjelaskan faktor pemicunya.
“Meskipun hypnic jerk adalah hal yang normal, frekuensinya dapat meningkat secara signifikan akibat kurang tidur, konsumsi kafein yang berlebihan, stres, atau kelelahan fisik yang ekstrem,” jelas Dr. Raj Dasgupta dalam wawancaranya dengan CNN Health.
Senada dengan hal tersebut, Dr. James K. Wyatt, direktur Sleep Disorders Service di Rush University Medical Center, menekankan bahwa fenomena ini adalah bagian dari sistem saraf yang sedang bertransisi.

“Ini adalah fenomena motorik yang terjadi saat sistem saraf mencoba beralih dari keadaan terjaga ke keadaan tidur. Otot-otot Anda mulai lumpuh (rileks total) demi keamanan saat bermimpi, namun terkadang ada ‘letupan’ saraf yang terjadi di tengah proses tersebut,” ungkap Dr. James K. Wyatt.
Faktor Pemicu dan Cara Menguranginya
Meskipun tidak dapat dihilangkan sepenuhnya, Anda dapat mengurangi frekuensi tersentak saat tidur dengan memperhatikan pola hidup:
- Batasi Kafein: Hindari kopi, teh, atau minuman berenergi di sore dan malam hari karena stimulan ini menjaga sistem saraf tetap waspada.
- Kelola Stres: Lakukan meditasi atau teknik pernapasan sebelum tidur untuk memastikan otak dalam kondisi tenang.
- Jadwal Tidur Teratur: Kekurangan tidur kronis membuat otak lebih rentan mengalami hypnic jerk karena tubuh mencoba masuk ke fase tidur terlalu cepat.
- Cukupi Magnesium: Beberapa ahli berpendapat bahwa kekurangan magnesium dapat memicu otot berkedut atau spasme saat istirahat.
Secara keseluruhan, hypnic jerk adalah pengingat bahwa otak kita tetap bekerja keras menjaga kita, bahkan saat kita mencoba untuk beristirahat. Jika sentakan ini disertai dengan rasa sakit atau gangguan tidur yang parah, barulah disarankan untuk melakukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter spesialis saraf.


