5 Dampak Nyata Krisis Global Untuk Anak Muda

Visual retina mata yang menampakkan kehancuran bumi akibat perang

Jakarta – Peringatan Hari Bumi yang jatuh setiap tanggal 22 April menjadi momentum refleksi semua pihak bahwa isu lingkungan tidak berdiri sendiri. Meningkatnya ketegangan global, khususnya konflik antara Iran dengan AS-Israel, menjadikan Hari Bumi tahun ini terasa semakin kompleks, bahwa krisis ekologi berkelindan dengan instabilitas geopolitik dan tekanan ekonomi global.

Hari Bumi di Tengah Bayang-Bayang Konflik Global

Peringatan Hari Bumi telah menjadi kampanye global yang melibatkan lebih dari 190 negara dunia, dengan tujuan utama meningkatkan kesadaran terhadap krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, seperti perubahan iklim, polusi, dan kerusakan ekosistem.

Potensi gangguan distribusi energi akibat konflik kawasan strategis seperti Selah Hormuz sebagai jalur vital distribusi energi dunia memicu efek domino, mulai dari ekonomi, perlambatan transisi menuju energi bersih, hingga stabilitas dapur di rumah. 

Dampak Terhadap Indonesia, Dari Energi hingga Daya Beli

Ketahanan energi Indonesia, sebagai negara net importer (importir neto) terdampak secara signifikan. Sekitar 20-25% dari total impor minyak mentah dan 30% LPG Indonesia berasal dari Timur Tengah dan melewati selat yang membentang sepanjang 167 kilometer (104 mil).

Karena itu, eskalasi konflik mendorong beberapa implikasi, diantaranya inflasi dan kenaikan harga pangan, tekanan ekonomi dan pelemahan rupiah yang semakin memperlebar defisit anggaran negara.

Ekonom INDEF menjelaskan bahwa dampak tak langsung seperti kenaikan harga BBM, gangguan logistik, dan tekanan terhadap ekspor menjadi ancaman serius bagi perekonomian domestik. 

“Konflik geopolitik kini tak lagi bersifat militer semata, tetapi menembus ke ranah ekonomi dan perdagangan. Oleh karena itu, respons Indonesia harus mencakup kebijakan energi, kestabilan nilai tukar, dan mitigasi rantai pasok.” ujar Tauhid Ahmad, Ekonom Senior INDEF.

Konflik di Selat Hormuz dan Dampaknya pada Dapur Kita

Generasi Muda Jadi Paling Rentan dan Terdampak

Di tengah disrupsi ini, anak muda menjadi yang paling terdampak. Kenapa? Inflasi energi dan pangan mengakibatkan krisis biaya hidup, kesempatan kerja yang semakin kompetitif, tekanan mental akibat ketidakpastian kondisi global, hingga ‘double burden’ krisis lingkungan akibat ketidakstabilan pasokan energi global.

Tapi jangan khawatir, anak muda tetap bisa melakukan hal-hal berdampak dengan berkontribusi melalui beberapa langkah konkret agar tetap berdaya, seperti, adaptasi ekonomi pribadi dengan mengelola pengeluaran dengan bijak, gaya hidup berkelanjutan dengan mengurangi ketergantungan pada energi fosil, hingga mendukung terus produk lokal serta terus meningkatkan keterampilan dalam menghadapi pasar kerja yang semakin kompetitif.

Peringatan Hari Bumi pada 2026 tidak hanya sekedar peringatan simbolik, melainkan alarm keras bahwa dunia sedang menghadapi krisis lingkungan, ekonomi dan geopolitik.

Bagi Indonesia, tantangan ini bukan hanya menjaga stabilitas ekonomi, tapi bisa jadi momentum untuk beradaptasi, membangun ketahanan pangan dan energi secara mandiri, serta mengambil peran aktif dalam menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan. (DZK)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *