Di Balik Jendela KRL: Mengapa Transportasi Umum Jadi Saksi Bisu ‘Quarter-Life Crisis’?

JAKARTA – Bagi ribuan commuter atau penglaju di Jakarta, kursi di dalam gerbong KRL atau bus TransJakarta bukan sekadar tempat duduk untuk berpindah lokasi. Bagi mereka yang berusia usia 20-an, ruang publik ini sering kali menjadi satu-satunya tempat untuk merenung, merasa cemas, dan mempertanyakan arah hidup sebuah fenomena psikologis yang dikenal sebagai Quarter-Life Crisis.

Tekanan di Balik Rutinitas

Fenomena ini bukan sekadar perasaan biasa, melainkan periode ketidakpastian dan pencarian jati diri yang intens. Di tengah kebisingan mesin dan padatnya penumpang, banyak dewasa muda yang justru merasa paling kesepian.

Psikolog klinis, Dra. A. Kasandra Putranto, menjelaskan bahwa mobilitas tinggi dan paparan media sosial selama di perjalanan menjadi pemicu kuat bagi krisis ini.

Quarter-life crisis biasanya dialami oleh seseorang berusia 18 hingga 30 tahun. Di transportasi umum, saat mereka memiliki waktu luang namun terjebak dalam rutinitas, mereka cenderung melakukan perbandingan sosial melalui gawai,” ujar Kasandra dalam sebuah diskusi mengenai kesehatan mental dewasa muda.

Menurutnya, melihat kesuksesan orang lain di layar ponsel saat diri sendiri sedang berdesakan di kereta sering kali memicu perasaan “tertinggal”.


Memahami Gejala Quarter-Life Crisis

Banyak yang tidak menyadari bahwa perasaan hampa di tengah keramaian adalah bagian dari fase perkembangan ini. Berikut adalah beberapa indikator utama yang sering muncul:

  • Kebimbangan dalam Mengambil Keputusan: Merasa takut salah memilih jalur karier atau pasangan.
  • Perasaan Terjebak: Merasa rutinitas (seperti berangkat kerja pagi pulang malam) tidak memberikan makna.
  • Isolasi Sosial: Merasa tidak ada orang yang memahami beban yang sedang dipikul, meski berada di kerumunan.
  • Kecemasan akan Masa Depan: Ketakutan bahwa mereka tidak akan pernah mencapai standar kesuksesan yang diharapkan.

Mengubah Perjalanan Menjadi Ruang Aman

Para ahli menyarankan agar dewasa muda tidak menekan perasaan tersebut. Sebaliknya, waktu di transportasi umum bisa digunakan untuk aktivitas yang lebih menenangkan daripada sekadar scrolling media sosial yang memicu kecemburuan.

Mendengarkan podcast pengembangan diri, menulis jurnal harian (journaling), atau sekadar melakukan teknik pernapasan sadar (mindfulness) dapat membantu mengelola kecemasan di tengah hiruk-pikuk komuter.

Quarter-life crisis memang nyata, namun ia juga merupakan tanda bahwa seseorang sedang berproses menuju kedewasaan yang lebih matang. Di balik jendela kereta yang melaju, ada harapan bahwa setiap kebingungan akan menemukan titik terangnya masing-masing.

Penulis: Nayla Kianarisha Dzahin

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *