Rebahan: Self Care yaa, Bukan Males !

JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk tuntutan dunia kerja yang serba cepat dan gempuran informasi di media sosial, sebuah tren gaya hidup mulai didefinisikan ulang oleh generasi muda. “Rebahan”—istilah populer untuk berbaring santai—kini bukan lagi sekadar label untuk perilaku malas. Bagi Gen Z, ini adalah bentuk perlawanan terhadap burnout dan bagian penting dari self-care.

Bukan Sekadar Memejamkan Mata

Bagi banyak orang tua, melihat anak muda berlama-lama di atas tempat tidur tanpa melakukan apapun sering dianggap sebagai pemborosan waktu. Namun, bagi Rizky (23), seorang Social Media Specialist di sebuah startup Jakarta, rebahan adalah momen “kalibrasi ulang”.

“Dunia digital itu nggak pernah tidur. Jam 9 malam pun notifikasi masih masuk. Kalau sayang gak mengambil waktu untuk benar-benar ‘diam’ dan rebahan tanpa distraksi, mental saya bisa tumbang. Ini bukan malas, ini cara saya bertahan agar besok tetap bisa produktif,” ujar Rizky.

Perspektif Pakar: Kebutuhan akan “Restorative Rest”

Menanggapi fenomena ini, psikolog klinis Dr. Arini Saputri, M.Psi., menjelaskan bahwa adaper bedaan mendasar antara kemalasan dan kebutuhan akan istirahat restoratif. Menurutnya, Gen Z tumbuh di era hustle culture yang sangat toksik, dimana nilai seseorang sering diukur dari seberapa sibuk mereka.

“Gen Z lebih vokal menyuarakan kesehatan mental. Mereka sadar bahwa otak manusia butuh waktu downtime untuk memproses informasi. Ketika mereka ‘rebahan’, saraf simpatik yang tegang karena stres kerja mulai beralih ke saraf parasimpatik yang menenangkan. Jadi, secara biologis, ini sangat valid,” jelas Dr. Arini.

Melawan Stigma “Generasi Strawberry”

Seringkali dicap lembek atau “generasi strawberry”, Gen Z justru melihat kemampuan untuk beristirahat sebagai bentuk kecerdasan emosional. Mereka menolak glorifikasi lembur dan lebih memilih keseimbangan hidup (work-life balance).

Beberapa alasan mengapa “Rebahan” menjadi pilihan utama Gen Z:

Sensorik Overload: Menghindari kebisingan informasi dari media sosial.

Decision Fatigue: Mengistirahatkan otak dari pengambilan keputusan kecil yang terus-menerus.

Ekonomi Energi: Menghemat tenaga untuk hal-hal yang benar-benar mereka anggap bermakna.

Rebahan ala Gen Z adalah tentang menetapkan batasan (boundaries). Di dunia yang terus menuntut produktivitas tanpa henti, berani untuk tidak melakukan apa-apa adalah sebuah tindakan keberanian medis dan mental.
Selama dilakukan dengan kesadaran (mindfulness) dan tidak mengabaikan kewajiban utama, rebahan adalah investasi jangka panjang untuk kesehatan jiwa. (KIN)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *