
JAKARTA – Mobil terbang diklaim bakal bebas polusi dan tidak bising. Bener nggak ya? Apakah kita termasuk yang skeptis soal hal ini?
Good questions, Tiltmates!
Solusi Kemacetan Kota Besar
Persoalan macet udah jadi cerita sehari-hari di Jakarta dan kota-kota besar dunia lainya. Nggak cuma bikin stress, macet juga menyebabkan kerugian finansial.
Mungkin, sebentar lagi persoalan-persoalan itu bakal bisa teratasi, dengan dikembangkanya kendaraan terbang.
Pabrikan kendaraan listrik asal China, Xpeng udah ngembangin mobil terbang X2 5th Generation Flying Car (eVTOL) sejak awal tahun 2021, sebagai salah satu solusi berkendara di kota besar, yang masalah utamanya adalah kemacetan.
Nggak cuma itu, kendaraan ini juga ramah lingkungan dan zero emission karena digerakkan penuh dengan tenaga listrik nol emisi dan tingkat kebisingan rendah. Meskipun dirancang khusus untuk ruang udara perkotaan dengan sensor canggih, X2 difokuskan untuk navigasi udara yang efisien daripada medan darat ekstrem.
Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menyebut kehadiran kendaraan terbang, bisa menjadi pilihan transportasi perkotaan bagi masyarakat. Namun ia meragukan saat ini teknologi tersebut menjadi solusi utama atas kemacetan di kota-kota besar seperti Jakarta.
Dudy menyatakan bahwa harga layanan taksi terbang saat ini masih tinggi, sehingga belum bisa dikategorikan sebagai moda transportasi massal yang terjangkau masyarakat umum di seluruh lapisan. Ia memandang kehadiran taksi terbang hanya sebagai alternatif tambahan, tidak menjadi pengganti dari moda transportasi yang tersedia di perkotaan seperti bus, KRL, MRT maupun LRT.
“Jadi kalau mau dikatakan sebagai solusi ya, mungkin tidak sepenuhnya. Tapi ini lebih kepada pilihan karena juga kalau saya lihat sekarang harganya masih relatif, masih mahal,” tuturnya,” ucap Dudy sebagaimana dilansir Antara.
Tapi, benarkah sesederhana itu?
Secara operasional, Xpeng X2 maupun kendaraan EV lainya jauh lebih bersih dibanding transportasi perkotaan dengan bahan bakar fosil. Namun, untuk menjadi “benar-benar” ramah lingkungan secara utuh, ada dua faktor kunci yang harus diperhatikan. Pertama, Sumber Energi (Grid). Jika listrik yang digunakan untuk mengisi daya di Jakarta masih berasal dari PLTU batu bara, maka emisinya sebenarnya hanya berpindah dari jalan raya ke lokasi pembangkit listrik. Kedua, Limbah Baterai. Penggunaan baterai lithium-ion dalam jumlah besar menuntut manajemen daur ulang yang ketat agar tidak menjadi limbah B3 di masa depan.

Produksi baterai juga membutuhkan energi besar di tahap awal. Artinya, ada “utang karbon” yang baru bisa terbayar setelah kendaraan digunakan dalam jangka waktu tertentu. Kabar baiknya, sistem daur ulang baterai terus berkembang sehingga material seperti lithium dan nikel bisa digunakan kembali dan menekan dampak jangka panjang.
Kendaraan listrik memang tidak mengeluarkan emisi dari knalpot. Namun jejak lingkungannya tidak berhenti di jalan raya. Sumber listrik yang digunakan—apakah dari batu bara, gas, atau energi terbarukan—sangat menentukan besar kecilnya emisi sebenarnya.
Bahkan Chairman Toyota Motor Corp., Akio Toyoda, bilang kalau mobil listrik pasti ramah lingkungan tak sepenuhnya benar. Bahkan, kendaraan listrik justru bisa meningkatkan emisi karbon, terutama dari proses produksinya.
Mobil hybrid maupun mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) tetap memiliki jejak karbon. Untuk BEV, emisi karbon muncul dari proses produksi, yang kerap masih mengandalkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
“Kami telah menjual sekitar 27 juta kendaraan hybrid (di seluruh dunia),” ungkap Toyoda. “Kendaraan hybrid tersebut memiliki dampak yang sama dengan 9 juta BEV di jalan raya,” tambah Toyoda.
Jadi, apakah EV ramah lingkungan? Jawabannya: bisa sangat ramah—jika listriknya bersih dan ekosistem produksinya bertanggung jawab.
Hemat Energi, Hemat Biaya?
Kendaraan terbang sudah bukan hanya angan-angan. Meski tahapan untuk menjadi kendaraan ramah kantong masyarakat Indonesia juga masih perlu waktu, tapi keberadaan kendaraan terbang ini bisa jadi alternatif transportasi cepat dan efisien.
Kalau dibuat simulasi menggunakan kendaraan terbang untuk mobilitas bisa mengurangi beban kerugian sebesar 10% – 15%. Hal ini, karena waktu tempuh 60-90 menit bisa ditempuh dengan hanya 11 hingga 13 menit saja.

Apakah Indonesia siap dengan Kendaraan Terbang?
Regulasi untuk kendaraan terbang seperti XPeng X2 di Indonesia masih dalam tahap penyesuaian karena tergolong teknologi baru (eVTOL). Fokus utama regulasi adalah pada keamanan, infrastruktur vertiport khusus, dan surat izin mengemudi (SIM), serta manajemen lalu lintas udara perkotaan.
Transisi energi bukan sekadar ganti kendaraan. Tapi ganti cara kita menghasilkan dan mengelola energi. ⚡🌱


